exPosKota.com— Pesticide Action Network Indonesia (PAN Indonesia) tampil di garis depan menyuarakan penyelamatan lingkungan menyusul kebakaran gudang penyimpanan pestisida di Tangerang Selatan yang memicu dugaan pencemaran serius di Sungai Cisadane.
Kematian ikan secara massal dalam beberapa hari terakhir menjadi alarm keras bagi masyarakat. PAN Indonesia menilai peristiwa ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan indikasi kuat adanya paparan bahan beracun berbahaya yang mengancam ekosistem dan kesehatan warga.
Koordinator PAN Indonesia, Riza Valentino Tjahyadi, menegaskan pemerintah tidak boleh lamban.
“Langkah cepat, terukur, dan transparan harus segera dilakukan. Sungai Cisadane harus dipulihkan total, dan pihak yang bertanggung jawab wajib ditindak tegas,” tegasnya.
Dugaan Cemaran Berbahaya
PAN Indonesia mengungkap dugaan keterlibatan dua jenis pestisida dalam insiden tersebut, yakni Propofenos dan Cypermethrin. Keduanya masuk kategori Kelas II (berbahaya sedang) menurut klasifikasi WHO.
Cypermethrin dikenal sebagai piretroid sintetis tipe II dengan tingkat toksisitas tinggi (LD50 250 mg/kg). Zat ini bekerja sebagai neurotoksin yang menyerang sistem saraf pusat dan perifer. Dalam lingkungan perairan, cypermethrin sangat beracun bagi ikan, lebah, dan organisme air lainnya, sehingga dikategorikan sebagai polutan serius.
Sementara itu, Propofenos merupakan insektisida organofosfat berspektrum luas. Meski lazim digunakan dalam pertanian dan pengendalian hama, kebocoran atau pengelolaan yang tidak sesuai standar berpotensi merusak ekosistem secara luas.
Hingga kini, belum ada data resmi mengenai konsentrasi racun di sungai maupun durasi residu bertahan di perairan. Ketidakpastian ini, menurut PAN Indonesia, memperbesar risiko bagi warga yang menggantungkan hidupnya pada Sungai Cisadane.
PAN Indonesia Rekomendasikan Bioremediasi
Sebagai solusi konkret, PAN Indonesia mendorong penerapan bioremediasi—metode ramah lingkungan yang memanfaatkan mikroorganisme seperti bakteri Pseudomonas dan Bacillus serta jamur untuk menguraikan senyawa beracun menjadi zat yang lebih aman.

Pendekatan yang direkomendasikan meliputi:
Bioaugmentasi, memasukkan mikroba khusus hasil pengembangan laboratorium untuk mempercepat penguraian polutan.
Biostimulasi, menambahkan nutrisi seperti nitrogen dan fosfor guna meningkatkan aktivitas mikroba alami.
Fitoremediasi, menggunakan tanaman air atau makrofit untuk menyerap kontaminan sekaligus merangsang aktivitas mikroba di sekitar akar.
Pemanfaatan biofilm dan sistem rekayasa seperti lahan basah buatan atau rakit apung tanaman.
Menurut Riza, kombinasi bioaugmentasi untuk percepatan awal dan biostimulasi untuk keberlanjutan jangka panjang dapat memberikan hasil optimal.
“Metode ini lebih ramah lingkungan dan relatif hemat biaya dibanding penanganan kimia konvensional,” ujarnya.
Empat Tuntutan Tegas PAN Indonesia
Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan komitmen terhadap keselamatan publik, PAN Indonesia menyampaikan empat tuntutan utama:
Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH segera mengarahkan perusahaan terkait melakukan remediasi menyeluruh hingga mutu air Sungai Cisadane kembali memenuhi baku standar kualitas lingkungan.
Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Pupuk dan Pestisida, meninjau ulang izin Propofenos dan Cypermethrin. Jika terbukti membahayakan, izin harus dicabut dan distribusi dihentikan.
Pemerintah pusat dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan menutup permanen lokasi gudang penyimpanan pestisida yang terbakar.
Pemerintah pusat dan daerah memastikan seluruh tempat penyimpanan pestisida di Indonesia memenuhi standar keamanan ketat.
Sebagai bagian dari jaringan global Pesticide Action Network bersama PAN Asia Pacific dan PAN Europe, PAN Indonesia menegaskan bahwa perlindungan lingkungan tidak boleh dikompromikan demi kepentingan apa pun.

Sungai Bukan Sekadar Aliran Air
Bagi ribuan warga, Sungai Cisadane adalah sumber kehidupan—untuk kebutuhan sehari-hari, perikanan, hingga pertanian. Jika pencemaran ini tidak ditangani secara serius dan transparan, dampaknya dapat meluas pada kesehatan masyarakat serta keberlanjutan ekosistem.
Kini, sorotan publik tertuju pada langkah nyata pemerintah. Di tengah kekhawatiran yang meluas, PAN Indonesia berdiri sebagai garda terdepan, memastikan tragedi ini tidak menjadi preseden buruk dalam pengawasan dan pengelolaan pestisida di Indonesia.
Remediasi harus total. Penutupan harus permanen. Dan Sungai Cisadane harus kembali bersih—demi generasi hari ini dan yang akan datang. ( august suzana)













































