EXPOSKOTA.COM- Tawa Kecil di Balik Ruang Tindakan: Kisah Haru Khitan Gratis di Cibitung
Pagi itu, Rabu (8/4/2026), suasana di Klinik PMI Kabupaten Bekasi, Cibitung, terasa berbeda. Bukan hanya antrean yang memanjang, tapi juga wajah-wajah kecil yang menyimpan campuran rasa: gugup, penasaran, dan sedikit berani.
Di balik genggaman tangan orang tua mereka, puluhan anak datang dengan satu tujuan—mengikuti program khitan gratis yang digelar Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bekasi. Sebuah kegiatan sederhana, namun menyimpan makna besar bagi banyak keluarga.
Di ruang tunggu, beberapa anak tampak duduk diam, sesekali melirik pintu ruang tindakan. Ada yang mencoba tersenyum, ada pula yang bersembunyi di balik pelukan ibunya. Sementara para orang tua, dengan tatapan penuh harap, terus memberikan semangat.
“Sebentar saja, nanti sudah selesai,” bisik seorang ayah, menenangkan putranya.
Hari itu, sebanyak 13 anak dari berbagai penjuru Kabupaten Bekasi hadir. Lima anak dari Tambun Selatan, tiga dari Cikarang Barat, dua dari Kota Bekasi, serta masing-masing satu dari Kedungwaringin, Cibitung, dan Setu.
Mereka datang dari latar belakang berbeda, namun dipersatukan oleh harapan yang sama: mendapatkan layanan
kesehatan yang layak tanpa beban biaya.
Sekretaris PMI Kabupaten Bekasi, Ucu Suryajingga, menyebut kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin. Lebih dari itu, ini adalah bentuk kepedulian nyata terhadap masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan.
“Bagi sebagian keluarga, khitan bisa menjadi beban biaya. Kami ingin hadir untuk meringankan itu, sekaligus memberikan edukasi pentingnya kesehatan sejak dini,” ujarnya,
Dukungan juga datang dari Ketua PMI Kabupaten Bekasi, H. Achmad Kosasih. Ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini merupakan bagian dari misi kemanusiaan PMI yang harus terus dijaga dan diperluas.

“PMI hadir bukan hanya saat terjadi bencana, juga tidak melulu terjait dengan tranfusi darah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kegiatan khitan gratis ini adalah bentuk nyata kepedulian kami untuk membantu masyarakat, khususnya keluarga yang membutuhkan. Kami ingin memastikan setiap anak mendapatkan hak layanan kesehatan yang layak,” ungkap mantan kepala di sejumlah dinas dan Sekretaris DPRD di Kabupaten Bekasi ini.
Kosasih juga menambahkan bahwa semangat gotong royong menjadi kunci utama dalam menjalankan berbagai program PMI.
“Dengan kolaborasi antara tenaga medis, relawan, dan dukungan masyarakat, kami yakin kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat,” tambahnya.
Di dalam ruang tindakan, tim medis bekerja dengan tenang dan terukur. Dipimpin oleh dr. Ariel Surya Paramitha, setiap prosedur dilakukan dengan standar medis yang ketat—aman, higienis, dan penuh kehati-hatian.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan dan Sosial PMI Kabupaten Bekasi, Adi Sumarsono, memastikan bahwa setiap anak mendapatkan penanganan terbaik, mulai dari pemeriksaan awal hingga edukasi pasca khitan bagi orang tua.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya sehat, tapi juga pulih dengan baik. Peran orang tua sangat penting dalam proses ini,” jelasnya.
Namun, yang membuat kegiatan ini terasa hangat bukan hanya layanan medisnya. Kehadiran para relawan PMI menjadi warna tersendiri. Dengan senyum dan sikap penuh empati, mereka membantu mencairkan suasana, menghibur anak-anak yang tegang, bahkan sesekali mengajak bercanda agar rasa takut perlahan hilang.
Di sudut ruangan, seorang ibu terlihat mengusap air mata—bukan karena sedih, melainkan lega. Anaknya baru saja selesai menjalani proses khitan dengan lancar.
“Alhamdulillah, sangat terbantu. Pelayanannya juga baik sekali,” ucapnya pelan.
Bagi banyak keluarga, hari itu bukan sekadar layanan kesehatan gratis. Ini adalah momen penting dalam perjalanan tumbuh kembang anak, yang kini bisa dilalui dengan lebih ringan.
PMI Kabupaten Bekasi pun berkomitmen untuk terus menghadirkan program serupa secara berkala. Tak hanya khitan gratis, tetapi juga berbagai kegiatan kemanusiaan lain seperti pengobatan massal dan edukasi kesehatan.
Di tengah segala keterbatasan, langkah-langkah kecil seperti ini menjadi bukti bahwa kepedulian masih hidup dan nyata.
Karena pada akhirnya, dari ruang sederhana di Cibitung itu, lahir cerita-cerita kecil yang penuh arti—tentang keberanian, tentang harapan, dan tentang gotong royong yang tak pernah pudar.( august suzana)













































