exPoskota– Di tengah denyut Kota Bekasi yang tak pernah benar-benar tidur, persalinan masih sering menjadi momen paling mendebarkan dalam hidup seorang perempuan. Rasa nyeri, lelah yang menumpuk, hingga bayang-bayang trauma pascamelahirkan kerap membekas lama.
Tak sedikit ibu yang mengingat hari kelahiran buah hatinya dengan air mata—bukan hanya karena haru, tapi juga karena perjuangan fisik dan mental yang luar biasa.
Namun, narasi itu perlahan diubah oleh Klinik Abdul Karim Medika Center. Lewat sebuah inovasi yang lahir dari pengalaman personal, klinik ini menghadirkan konsep persalinan yang hangat, menenangkan, bahkan memanjakan—sebuah pengalaman melahirkan yang terasa seperti pulang dari salon, bukan dari ruang medis yang kaku.

Adalah Susana Aka Sri Handayani, S.KM., S.Kep., sang owner, yang menjadi motor dari gagasan ini. Pengalaman melahirkan empat orang anak membuatnya paham betul bagaimana tubuh dan perasaan seorang ibu diuji.
Dari situlah muncul satu pertanyaan sederhana namun bermakna besar:
Mengapa persalinan harus selalu identik dengan rasa sakit dan trauma, bukan kenyamanan dan penghargaan bagi ibu?
Melahirkan di Kamar Sehangat Staycation
Bayangkan proses persalinan berlangsung di ruang yang terasa seperti villa pribadi. Bukan kamar rumah sakit yang dingin dan serba putih, melainkan ruang bersalin bergaya staycation villa dengan sentuhan elegan dan pencahayaan hangat yang menenangkan.
Setiap kamar dirancang luas dan nyaman—lengkap dengan tempat tidur empuk, sofa bed untuk pendamping, televisi, kulkas, meja makan, serta interior yang memberi rasa aman dan tenang. Nuansa inilah yang membuat ibu merasa lebih rileks, lebih percaya diri, dan lebih siap menyambut kelahiran buah hati.
Di sinilah Klinik Abdul Karim Medika Center menjadi yang pertama di Kota Bekasi menghadirkan konsep persalinan yang memadukan layanan medis profesional dengan pendekatan emosional dan kenyamanan maksimal.
Bekasi dan Kebutuhan Akan Persalinan yang Lebih Manusiawi.
Sebagai kota dengan pertumbuhan penduduk yang pesat, Bekasi mencatat lebih dari 20 ribu kelahiran setiap tahun. Namun di balik angka itu, masih banyak cerita ibu yang merasa pengalaman melahirkannya “sekadar dilalui”, tanpa ruang untuk pemulihan fisik dan batin.
WHO mencatat, 10–15 persen ibu di negara berkembang mengalami depresi pascapersalinan. Kurangnya kenyamanan, minimnya perawatan pasca-lahir, serta tekanan psikologis menjadi faktor pemicu. Klinik Abdul Karim Medika Center membaca realitas ini sebagai panggilan untuk menghadirkan perubahan.
“Persalinan seharusnya menjadi momen paling bahagia dalam hidup seorang perempuan, bukan pengalaman yang ingin dilupakan,” ujar pihak klinik.
Javanese Spa Postpartum: Hadiah untuk Ibu yang Baru Berjuang
Perhatian klinik ini tidak berhenti saat bayi lahir. Justru, fase pascapersalinan menjadi fokus utama. Di sinilah Javanese Spa Postpartum hadir sebagai bentuk penghargaan bagi ibu yang baru melewati perjuangan besar.
Mulai H+1 pascamelahirkan, ibu mendapatkan perawatan spa selama 90 menit oleh terapis berpengalaman. Pijatan lembut khas Jawa menyentuh kepala, punggung, tangan, dan kaki—membantu melancarkan peredaran darah, meredakan nyeri, dan memulihkan energi tubuh.
Tak hanya itu, tersedia totok wajah, masker, creambath, hingga hair dry, membuat ibu merasa segar, ringan, dan kembali percaya diri. Ditutup dengan minuman jahe hangat alami, tubuh dan pikiran benar-benar diajak beristirahat.
“Ini bukan sekadar pijat, tapi ritual pemulihan,” tutur Mbak Neng, terapis berpengalaman di klinik tersebut.
“Banyak ibu yang tersenyum lega, bahkan menangis haru setelah selesai. Rasanya seperti habis perawatan di salon—tenang, cantik, dan bahagia.”
Studi internal klinik menunjukkan, 95 persen ibu merasa trauma persalinan mereka berkurang signifikan, sejalan dengan berbagai riset medis yang menyebut pijat postpartum mampu menekan risiko baby blues dan depresi ringan.
Lebih dari Sekadar Klinik, Ini Tentang Pengalaman
Klinik Abdul Karim Medika Center bukan hanya tempat melahirkan. Ia menjadi ruang aman bagi ibu untuk dipeluk oleh kenyamanan, dipulihkan dengan empati, dan dirayakan atas perjuangannya.
Di kota yang terus bergerak cepat seperti Bekasi, inovasi ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap kelahiran, ada seorang ibu yang layak mendapatkan perawatan terbaik—secara medis, emosional, dan manusiawi. (august sss)














































