exPosKota.com-Di sebuah lapangan sederhana di sudut Kabupaten Bekasi, suara peluit terdengar nyaring memecah sore. Keringat jatuh tanpa banyak kata, seolah para atlet tahu—waktu tak lagi panjang. Pekan Olahraga Provinsi Jawa Barat 2026 tinggal hitungan bulan. November sudah di depan mata, dan bersama itu, harapan—juga kegelisahan—menggantung di udara.
Kabupaten Bekasi bukan nama sembarangan dalam peta olahraga Jawa Barat. Dua kali berturut-turut menyabet gelar juara umum Porprov, daerah ini kini berdiri di ambang sejarah: hattrick, tiga kali juara beruntun. Sebuah capaian yang tak hanya membanggakan, tapi juga mengukuhkan Bekasi sebagai salah satu lumbung atlet terbesar di provinsi ini.
Bahkan di level nasional, kontribusinya nyaris konsisten—sekitar 30 persen medali untuk Jawa Barat dalam ajang Pekan Olahraga Nasional.
Namun, di balik reputasi itu, ada cerita yang lebih sunyi. Cerita tentang pelatih yang menghitung ulang program latihan, dan pengurus cabang olahraga yang mulai gelisah membaca kabar anggaran.

Isu yang beredar menyebutkan, dukungan dana dari pemerintah daerah untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia hanya sekitar Rp5 miliar. Dengan sekitar 70 cabang dan anak cabang olahraga, angka itu terurai menjadi kira-kira Rp70 juta per cabang. Bagi olahraga yang membutuhkan pelatihan intensif, peralatan khusus, hingga try out ke luar daerah, angka itu terasa jauh dari cukup—nyaris seperti meminta atlet berlari maraton dengan bekal seteguk air.
Dan di sinilah ketegangan itu terasa nyata.
Di lintasan atletik, seorang sprinter tetap berlatih start berulang-ulang, meski sepatu yang ia pakai mulai menipis di bagian sol. Di kolam renang, seorang perenang menghitung detik demi detik, berharap bisa memangkas waktu, meski jadwal try out ke luar daerah masih tanda tanya. Di arena dayung, ayunan tangan tetap konsisten membelah air, walau bayangan keberangkatan ke Porprov belum benar-benar pasti.
Mereka tetap berlatih. Karena bagi atlet, berhenti bukan pilihan.
Padahal, olahraga bukan sekadar soal menang dan kalah. Ia adalah wajah daerah. Ketika seorang atlet berdiri di podium, yang terangkat bukan hanya medali di lehernya, tapi juga nama daerah yang dibawanya. Prestasi adalah bahasa paling cepat untuk memperkenalkan sebuah wilayah ke panggung yang lebih luas.
Lebih dari itu, olahraga membangun identitas. Daerah yang dikenal sebagai “lumbung atlet” akan memantik kebanggaan kolektif. Dari sana lahir dukungan, lahir semangat, lahir generasi baru yang ingin mengikuti jejak para juara. Bahkan, dalam banyak hal, olahraga menjadi jembatan diplomasi—atlet adalah duta yang membawa karakter, budaya, dan cerita daerahnya ke luar.
Namun semua itu tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun dari proses panjang: pembinaan sejak usia dini, fasilitas yang memadai, sistem kompetisi yang sehat, dan—yang tak kalah penting—dukungan nyata dari pemerintah dan berbagai pihak.
Di titik inilah pertanyaan besar muncul: di mana “political will” Pemerintah Daerah itu berada?

Bagi insan olahraga Bekasi, jawabannya sebenarnya sederhana. Ada dua langkah yang bisa diambil pemerintah daerah. Pertama, mengalokasikan anggaran yang setidaknya cukup agar Bekasi tetap bisa bertarung di Porprov. Kedua, jika itu tidak memungkinkan, menyampaikan secara terbuka—jujur dan tegas—bahwa Bekasi tidak akan ikut serta.
“Jadi jelas ke mana kita akan melangkah,” ujar Arif Rahman Hakim, Ketua Federasi Arung Jeram Indonesia Kabupaten Bekasi dengan nada yang lebih banyak menyimpan harap ketimbang protes.
Kejelasan, bagi para atlet, jauh lebih berarti daripada janji yang menggantung.
Namun, kegelisahan itu kini mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam: kecemasan kolektif. Bukan hanya soal gagal juara, tetapi tentang kemungkinan kehilangan momentum.
Sebab, generasi atlet tidak menunggu. Usia emas terus berjalan. Kesempatan bertanding tidak datang dua kali dengan kondisi yang sama.

Di sisi lain, peluang sebenarnya terbuka lebar. Kabupaten Bekasi dikenal sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. Ribuan pabrik berdiri, perusahaan-perusahaan besar beroperasi, dan potensi dana Corporate Social Responsibility terbentang luas. Dalam praktiknya, penggunaan CSR untuk pembinaan olahraga bukan hal asing. Ia masuk dalam kerangka pengembangan masyarakat, peningkatan kesehatan, hingga pembinaan generasi muda.
Bayangkan jika sebagian kecil saja dari potensi itu digerakkan. Satu cabang olahraga bisa mendapatkan tambahan dukungan. Satu atlet bisa berangkat try out. Satu tim bisa tampil lebih siap. Dan dari “satu-satu” itulah, sejarah besar sering lahir.

Dengan pendekatan yang tepat, bukan mustahil sektor swasta ikut mengambil peran. Apalagi jika diberikan ruang publikasi dan kemitraan yang wajar—sebuah simbiosis yang saling menguatkan.
Pertanyaannya tinggal satu: maukah upaya itu dilakukan?
Kisah kecil dari pinggir lapangan memberi gambaran yang lebih nyata. Dalam sebuah percakapan santai, saya sempat melempar tanya kepada Chairul Sinaga, Sekretaris PODSI Kabupaten Bekasi,—bagaimana jika Bekasi memutuskan tidak ikut Porprov?
Jawabannya singkat, tapi dalam.
“Kita tidak tegalah. Para atlet sudah capek latihan, lantas kita suruh tidak ikut Porprov.
Kalimat itu seperti menampar pelan. Di balik semua angka dan kebijakan, ada atlet-atket yang telah mencurahkan waktu, tenaga, bahkan mimpi mereka. Mereka yang setiap hari bangun lebih pagi, berlatih lebih keras, menahan lelah, dan menunda banyak hal demi satu tujuan: mengibarkan nama Kabupaten Bekasi di podium tertinggi.
Malam hari, ketika latihan usai, sebagian dari mereka pulang dengan tubuh letih, tapi pikiran tetap penuh tanya. Apakah perjuangan ini akan benar-benar sampai ke garis akhir? Atau berhenti di tengah jalan karena sesuatu yang seharusnya bisa diupayakan?

Kini, semua kembali pada satu titik: keputusan.
Apakah Kabupaten Bekasi akan melangkah menuju sejarah, mengejar hattrick yang membanggakan? Atau justru berhenti di garis start, bukan karena kalah bertanding, tapi karena tak sempat berangkat?
Di lapangan-lapangan latihan itu, para atlet masih berlatih. Mereka tidak menunggu kepastian untuk bergerak. Mereka sudah memilih untuk berjuang.
Tapi perjuangan, pada akhirnya, tidak bisa berjalan sendirian.
Ia membutuhkan keberpihakan.












































