BEKASI – Biasanya, GOR Tambun dipenuhi suara pekikan semangat, hentakan kaki dan bunyi pelindung tubuh yang beradu saat taekwondoin bertarung. Namun Sabtu (8/8/2026), ada pemandangan berbeda. Sebelum adu teknik dan tendangan dimulai, ratusan atlet justru dibuat bergoyang oleh hentakan musik K-Pop.
Suasana GOR Tambun seketika berubah. Para pelajar Korea yang tinggal di Jakarta tampil enerjik membawakan tarian K-Pop di hadapan para peserta Kejuaraan Cabang Taekwondo Kabupaten Bekasi.
Tepuk tangan pun pecah. Sorakan membahana. Para atlet yang sebelumnya terlihat serius dan berkonsentrasi menghadapi pertandingan ikut tersenyum dan menikmati setiap gerakan para penari.
K-Pop seakan menjadi “setrum” pembangkit suasana.
Bukan tanpa alasan suguhan tersebut dihadirkan. Panitia memang ingin memberikan ruang bagi para atlet untuk sejenak melepaskan ketegangan setelah menjalani persiapan panjang sebelum bertanding.
Bagi seorang atlet, pertandingan bukan hanya tentang kemampuan fisik. Ada tekanan mental, rasa gugup dan keinginan untuk tampil sempurna. Karena itu, suasana rileks sebelum pertandingan dianggap penting agar atlet bisa tampil lebih percaya diri.
“Anak-anak perlu suasana yang rileks sebelum bertanding. K-Pop ini menjadi hiburan sekaligus refresh agar mereka tidak terlalu tegang,” ujar Ketua Umum Taekwondo Indonesia (TI) Kabupaten Bekasi, Master Saipul Anwar.
Menurut Saipul, setelah mendapatkan hiburan dan suasana yang lebih santai, para atlet diharapkan dapat kembali memusatkan perhatian pada pertandingan.
“Setelah refresh, mereka kembali fokus. Yang terpenting adalah mereka bisa bertanding dengan kemampuan terbaik dan menikmati prosesnya,” katanya.

Dan ketika tarian berakhir, panggung hiburan pun berganti menjadi arena pertarungan.
Sebanyak 690 atlet dari 36 Dojang di Kabupaten Bekasi siap bertanding dalam kejuaraan yang digelar 8-9 Agustus 2026 tersebut. Mereka turun di berbagai kelas, baik Kyorugi maupun Poomse.
Jumlah peserta yang mencapai ratusan menunjukkan gairah pembinaan taekwondo di Kabupaten Bekasi terus bergerak. Setiap dojang datang dengan membawa atlet-atlet terbaiknya. Ada yang sudah memiliki pengalaman bertanding, ada pula yang menjadikan kejuaraan ini sebagai kesempatan untuk merasakan atmosfer kompetisi.
Di nomor Kyorugi, keberanian akan diuji. Atlet harus mampu bergerak cepat, membaca celah, melancarkan serangan tepat sasaran sekaligus mengantisipasi serangan lawan.
Sementara Poomse menghadirkan tantangan berbeda. Tidak ada lawan yang berdiri di depan untuk diserang. Namun ketepatan teknik, keseimbangan, kekuatan, konsentrasi dan penguasaan gerakan menjadi ukuran penampilan.
Dua nomor berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: mental harus kuat.
Saipul Anwar menegaskan bahwa kejuaraan tersebut bukan hanya bertujuan mencari atlet yang berdiri di podium paling tinggi.
Menurutnya, pertandingan merupakan bagian dari proses panjang pembentukan seorang atlet.
“Jangan hanya berpikir soal menang dan kalah. Yang paling penting adalah keberanian bertanding, pengalaman dan bagaimana atlet mampu mengevaluasi dirinya setelah pertandingan,” tuturnya.
Ia pun meminta seluruh peserta tetap menjunjung sportivitas. Sebab, lawan yang dihadapi di arena bukanlah musuh, melainkan bagian dari proses untuk membuat kemampuan seorang atlet semakin berkembang.
“Bertandinglah dengan maksimal, hormati lawan dan junjung sportivitas. Kalau hari ini belum menjadi juara, jangan berhenti. Jadikan kekalahan sebagai bahan evaluasi untuk menjadi lebih baik,” pesannya.
Pesan itu menjadi penting karena perjalanan seorang taekwondoin menuju prestasi tidak dibangun dalam satu pertandingan. Ada latihan panjang, keringat, disiplin, rasa lelah, bahkan kegagalan yang harus dilewati.
Maka ketika 690 taekwondoin memasuki arena, mereka sesungguhnya tidak hanya membawa nama dojang. Mereka membawa hasil latihan dan perjuangan masing-masing.
K-Pop telah memberikan mereka senyum dan suasana santai sebelum bertanding.
Kini, saatnya para taekwondoin membayar semua latihan dengan perjuangan di arena.
K-Pop boleh “menyetrum” GOR Tambun. Tetapi begitu pertandingan dimulai, giliran semangat, keberanian, teknik dan mental juara yang harus menggelegar! ( Augus Suzana)















































