BEKASI – Siapa bilang pelajaran tentang masa depan hanya bisa didapat dari dalam kelas?
Di SMK Teratai Putih Global 1 Bekasi, sebuah kolam lele sederhana justru menjadi ruang belajar yang menyimpan banyak cerita. Di sana, siswa tidak hanya belajar bagaimana memelihara ikan, tetapi juga belajar tentang arti kerja keras, kesabaran, tanggung jawab dan keberanian untuk berusaha.
Adalah Ahmad Romadhon, yang akrab disapa Madun, sosok di balik kegiatan sederhana tersebut.
Sehari-hari Madun bertugas sebagai caraka. Ia membantu berbagai kebutuhan sekolah agar aktivitas belajar mengajar dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Tetapi Madun tidak berhenti hanya pada pekerjaan rutinnya.
Ia memilih melakukan sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang terlihat kecil, tetapi bisa menjadi bekal besar bagi masa depan siswa: mengajarkan kewirausahaan melalui budidaya ikan lele.
Dari Bibit Kecil, Tumbuh Pelajaran Besar
Para siswa diajak memulai budidaya dari bibit lele berukuran kecil. Mereka belajar memberi makan, menjaga kebersihan kolam, mengamati pertumbuhan ikan hingga menghitung hasil ketika lele siap dipanen dan dijual.
Tidak ada teori yang rumit.
Yang ada adalah pengalaman nyata.
Setiap hari siswa melihat bagaimana ikan-ikan itu tumbuh. Mereka belajar bahwa sesuatu yang besar tidak bisa diperoleh dalam semalam.
Ada proses yang harus dijalani.
Ada kesabaran yang harus dijaga.
Ada tanggung jawab yang harus ditunaikan.
Dan pada akhirnya, ada hasil yang bisa dinikmati.
Di situlah nilai kewirausahaan sesungguhnya mulai tumbuh.
Madun ingin menanamkan pemahaman kepada siswa bahwa menjadi wirausahawan tidak harus selalu dimulai dari modal besar.
Yang terpenting adalah keberanian untuk memulai dan kemauan untuk terus belajar.
“Yang penting berani mencoba dan mau belajar,” ujar Madun.
Kalimat sederhana itu barangkali terdengar biasa. Namun, bagi siswa yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja dan kehidupan yang sesungguhnya, pesan tersebut bisa menjadi bekal yang sangat berarti.
Bukan Guru di Kelas, tetapi Guru Kehidupan.
Madun memang bukan guru yang setiap hari berdiri di depan kelas.
Namanya mungkin tidak tertulis dalam jadwal mata pelajaran.
Namun, melalui kolam lele, ia memberikan sesuatu yang tidak kalah penting dari sekadar teori.
Ia mengajarkan bahwa kesuksesan membutuhkan proses.
Ia memperlihatkan bahwa pekerjaan sederhana pun bisa memiliki nilai ekonomi apabila ditekuni dengan serius.
Dan yang paling penting, ia mencoba menumbuhkan keberanian di dalam diri siswa untuk tidak selalu berpikir menjadi pekerja, tetapi juga berani membayangkan diri sebagai pencipta lapangan usaha.
Bagi Madun, berbagi pengalaman kepada siswa adalah bentuk kepedulian.
Ia ingin anak-anak muda itu memiliki bekal lebih ketika suatu hari meninggalkan bangku sekolah. Bukan hanya ijazah, tetapi juga keberanian, keterampilan dan mental untuk menghadapi kehidupan.
Pelajaran yang Tumbuh dari Kolam
Ada sesuatu yang menarik dari kegiatan sederhana ini.
Ketika siswa memberi makan lele, sebenarnya mereka sedang belajar disiplin.
Ketika membersihkan kolam, mereka sedang belajar bertanggung jawab.
Ketika menunggu ikan tumbuh, mereka sedang belajar bersabar.
Ketika menghitung hasil panen, mereka sedang belajar mengenal dunia usaha.
Dan ketika lele akhirnya dijual, mereka melihat dengan mata sendiri bahwa kerja keras dapat berubah menjadi sesuatu yang bernilai.
Itulah sebabnya kolam lele di sekolah tersebut bukan sekadar tempat memelihara ikan.
Ia menjadi tempat menanam mimpi.
Mimpi agar kelak ada siswa yang berani membuka usaha sendiri.
Mimpi agar anak-anak muda tidak takut gagal ketika mencoba.
Dan mimpi agar keterampilan yang mereka dapatkan di sekolah benar-benar bisa menjadi bekal menghadapi kehidupan.
Karena Inspirasi Bisa Datang dari Siapa Saja
Kisah Madun menyampaikan pesan sederhana: setiap orang bisa menjadi inspirasi.
Tidak harus menjadi guru.
Tidak harus memiliki jabatan tinggi.
Tidak harus mempunyai modal besar.
Kadang, inspirasi hadir dari seseorang yang setiap hari bekerja dalam diam, tetapi memiliki kepedulian besar terhadap masa depan anak-anak.
Madun mungkin hanya seorang caraka di mata sebagian orang.
Namun bagi siswa yang belajar bersamanya, ia adalah sosok yang mengajarkan bahwa masa depan harus dipersiapkan sejak sekarang.
Dari kolam lele yang sederhana itu, tumbuh pelajaran yang jauh lebih besar.
Bahwa hidup membutuhkan kerja keras.
Bahwa usaha membutuhkan kesabaran.
Bahwa keberhasilan membutuhkan keberanian untuk memulai.
Dan bahwa mimpi besar terkadang memang berawal dari sesuatu yang sangat kecil.
Sebab pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat mencetak siswa yang pintar menjawab soal.
Sekolah juga harus menjadi tempat menumbuhkan manusia yang berani bekerja, berani bermimpi dan berani menciptakan masa depannya sendiri.
Dan Madun, melalui kolam lelenya, sedang melakukan hal itu—menanam mimpi wirausaha, satu bibit lele demi satu bibit lele. ( ismiati)














































