Exposkota.com- Suasana pagi di SMK Bina Ilmu Mandiri, Kampung Kemejing, Desa Sukaindah, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi, Kamis (30/4/2026), terasa berbeda. Bukan hanya deru aktivitas belajar yang terdengar, tetapi juga pesan-pesan tegas penuh kepedulian dari aparat kepolisian yang datang langsung menyapa para pelajar.
Melalui program Police Goes to School, jajaran kepolisian hadir bukan sekadar memberi penyuluhan, tetapi membangun kesadaran—bahwa masa depan generasi muda tidak boleh terseret arus negatif zaman.
Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB itu dihadiri oleh Ipda Yayan S, bersama Aipda Riyawan, serta Kepala Sekolah Dadang, para guru, staf, dan seluruh siswa-siswi.
Dalam arahannya, Ipda Yayan menyampaikan pesan yang lugas namun penuh makna. Ia mengingatkan para pelajar agar tidak mudah terbawa arus ajakan yang belum tentu benar, terutama terkait aksi unjuk rasa ke Jakarta.
“Adik-adik jangan mudah terprovokasi untuk ikut demo atau unjuk rasa. Fokuslah pada pendidikan dan masa depan kalian,” tegasnya.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti pentingnya bijak bermedia sosial di era digital saat ini. Menurutnya, jejak digital tidak pernah benar-benar hilang, dan setiap aktivitas di dunia maya bisa dipantau, termasuk oleh tim patroli siber.
“Gunakan media sosial dengan bijak. Jangan mudah terpancing berita hoaks karena bisa mempengaruhi pergaulan dan berujung pada tindakan kriminal seperti tawuran atau pencurian,” ujarnya.
Pesan paling tegas disampaikan terkait bahaya tawuran dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Ia mengingatkan bahwa kepolisian tidak akan ragu mengambil tindakan hukum.
“Jangan sampai terprovokasi ajakan tawuran. Kami akan menindak tegas sesuai hukum jika ada yang terlibat, termasuk penggunaan obat-obatan terlarang,” katanya dengan nada serius.
Namun di balik ketegasan itu, terselip harapan besar. Ipda Yayan mengajak para siswa untuk saling menghormati dan menjaga keamanan serta ketertiban di lingkungan sekolah.
Sementara itu, perhatian juga diarahkan kepada para guru. Pihak kepolisian mengimbau agar tenaga pendidik terus aktif membimbing siswa, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga karakter.
Guru diminta menanamkan kecintaan terhadap ilmu sekaligus lebih peka terhadap perkembangan perilaku siswa di sekolah.
Tak kalah penting, pihak sekolah juga didorong untuk menjalin komunikasi yang intens dengan kepolisian. Jika terdapat potensi gangguan yang dapat menghambat proses belajar mengajar, sekolah diminta segera berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa menjaga generasi muda bukan hanya tugas sekolah atau keluarga, tetapi juga tanggung jawab bersama. Polisi hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai sahabat pelajar—yang mengingatkan, melindungi, dan mengarahkan.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, pesan pagi itu sederhana namun kuat: masa depan tidak boleh dipertaruhkan oleh keputusan sesaat. ( august sss)













































